Rabu, 29 September 2010

Makalah Profesi Kependidikan

MAKALAH

PROFESI KEPENDIDIKAN

PEMBAHASAN SOAL




Oleh :

Lina dwi indriawati 08311189

Siti Zubaidah 08311133



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam, karena atas izin dan kehendak– Nya jualah makalah sederhana ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.

Penulisan dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Kependidikan. Adapun yang penulis bahas dalam makalah sederhana ini mengenai Pembahasn Soal - soal.

Dalam penulisan makalah ini penulis menemui berbagai hambatan yang dikarenakan terbatasnya Ilmu Pengetahuan penulis mengenai hal yang berkenaan dengan penulisan makalah ini. Oleh karena itu sudah sepatutnya penulis berterima kasih kepada dosen pembimbing, yakni Prof. Dr. H. Juhri AM., M.Pd. yang telah memberikan limpahan ilmu berguna kepada kami.

Penulis menyadari makalah ini belum sempurna, tetapi dalam makalah ini penulis sudah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan juga kritik yang bersifat membangun agar lebih baik dalam pengerjaan akan datang. Penulis juga berharap agar makalah ini dapat berguna bagi orang lain yang membacanya.

Metro, 19 April 2010

Kelompok


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

KATA PENGANTAR............................................................................................. ii

DAFTAR ISI........................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.................................................................................................... 1

1.2 Tujuan................................................................................................................. 2

BAB II SOAL DAN JAWABAN

Soal nomor 1............................................................................................................. 3

Soal Nomor 2............................................................................................................ 4

Soal Nomor 3............................................................................................................ 8

Soal nomor 4............................................................................................................. 9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan........................................................................................................ 10

3.2 Saran................................................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kenyataan akhir – akhir ini sering kita jumpai sejumlah anggota PGRI yang menggunakan metode tertentu yang kurang atau tidak cocok dengan isi dan tujuan organisasi tersebut. Akibatnya, hasilnya tidak memuaskan, bahkan mungkin merugikan semua pihak terutama pihak negara dan siswa itu sendiri, walaupun kebanyakan mereka tidak menyadari hal itu.

Agar mutu organisasi dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan mendapatkan hasil yang memuaskan, anggota PGRI sebaiknya menentukan pendekatan dan metode yang akan digunakan sebelum melakukan proses belajar mengajar dengan melihat kondisi yang terjadi. Pemilihan suatu pendekatan dan metode tentu harus disesuaikan dengan tujuan organisasi. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan mutu organisasi yang lebih bagus.

Menjadi bagian dari anggota PGRI seorang guru harus menjadi orang yang dapat menjadi pelopor atau pemeran utama dalam pengembangan mutu organisasi. Dalam prakteknya guru tersebut harus mempunyai metode dan cara yang dapat meningkatkan mutu organisasi sebagai bentuk tanggung jawab menjadi anggota organisasi.

Perkembangan jaman yang semakin pesat menjadikan sebuah tantangan yang besar untuk para guru bagaimana harusnya membuat dan menggunakan cara agar dapt tercapai apa yang jadi keinginan utama organisasi PGRI. Langkah dan cara itu yang akan membuat terciptanya metode pendidikan dan mutu pendidikan akan semakin meningkat dengan pesat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah Profesi Kependidikan ini adalah :

1. Untuk mengetahui metode dan cara yang digunakan oleh para anggota PGRI.

2. Untuk mengetahui karakteristik anggota PRGI.

3. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan metode dari tiap – tiap anggota PGRI.

4. Untuk mengetahui upaya pemecahan masalah dalam peningkatan mutu organisasi.

BAB II

SOAL DAN JAWABAN

Soal nomor 1

1. Andaikan saudara anggota PGRI, bagaimana saudara dapat membantu organisasi tersebut supaya dapat meningkatkan mutu organisasi?

Jawab :

Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/ pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk atau hasil dan jasa tersebut.

Dari definisi diatas, maka yang akan harus dilakukan dalam upaya peningkatan mutu organisasi antara lain :

1. Melakukan tugas dengan tepat waktu,

2. Memberikan akurasi pelayanan yang baik,

3. Bertanggung jawab atas semua yang dilakukan,

4. Membantu untuk melengkapi media pengajaran,

5. Melakukan JOBDES dengan baik,

6. Melaksanakan program kerja PGRI sesuai dengan apa yang menjasdi tanggung jawabnya,

7. Meningkatkan kualitas kerja.

Sebagai wahana pengembangan mutu organisasi, maka sebagai anggota PGRI harus mampu melakukan hal – hal diatas. Kualitas dan mutu organisasi akan dapat tercapai dengan melakukan hal – hal diatas.

Soal nomor 2

2. Di Era menjelang persaingan mutu tenaga kerja, masih juga ditemukan mahasiswa tawuran dengan mahasiswa maupun antar kampus. Menurut saudara apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut supaya tidak terjadi sehingga menghambat peningkatan mutu.

Jawab :

1. Meningkatkan mutu pembelajaran, contohnya mengunakan metode team work.

Istilah "Team" merujuk kepada suatu kelompok yang bekerja sama untuk mencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Team memiliki bentuk, misi, dan durasi yang beragam. Karolyn J. Snyder and Robert H. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team, yaitu team permanen dan team sementara. Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. Sedangkan, team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali, setelah pekerjaan selesai. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara.

Dengan mengutip pemikiran Cunningham and Gresso, Oswald (1996) mengemukakan dua faktor esensial dalam suatu team yang dapat semakin memantapkan budaya team (culture team), yaitu: bonding (ikatan) dan cohesiveness (kesatupaduan). Bonding akan memastikan bahwa anggota team memiliki komitmen yang kuat, misalnya terhadap waktu, pengetahuan, keterampilan dan energi untuk mencapai tujuan team. Team yang terikat akan lebih enthusias, loyal kepada organisasi dan team itu sendiri. Para anggota dapat memulai proses pengikatan ini pada saat pertemuan (rapat) pertama kali, mereka menentukan tujuan, peran, dan tanggunggjawab individu dan kelompok. Cohesiveness (kesatupaduan) didefinsiikan oleh Cunningham dan Gresso sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok, yang ditandai oleh adanya rasa memiliki dan keterkaitan di antara sesama anggota.

Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan " Mengapa saya berada di sini", demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). Berikutnya, menentukan peran dan tanggung jawab masing –masing anggota. Beberapa peran penting dalam suatu team :

1. Pencatat yaitu anggota team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh team, termasuk mencatat hal –hal penting hasil rapat –rapat, serta membuat notulen rapat –rapat.

2. Pencatat waktu yaitu anggota team yang bertugas mengingatkan team berjalan sesuai jadwal.

3. Penjaga gawang yaitu anggota team yang bertugas menyemangati anggota team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota, dan

4. Devil's advocate yaitu anggota team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota team yang lain, sehingga isuisu yang ada dilihat dari berbagai sisi.

Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team, baik dalam perencanaan, pengimplementasian, maupun penilaian. Ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan.

Ciri-ciri ketua team yang baik adalah:

1. Bekerja sesuai konsensus.

2. Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan, opini, pendapat, pemikiran, dan persepsi seluruh anggota team terhadap masalah dan kondisi.

3. Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan.

4. Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota team.

5. Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya ketimbang menyalahkan orang lain.

6. Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain, berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain.

7. Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu.

Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah:

1. Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berkembang.

2. Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain.

3. Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka.

4. Mempertimbangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain.

5. Membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya.

6. Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team.

7. Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalarn melakukan kegiatan.

8. Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team.

Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team, yaitu :

1. Anggota tidak memahami tujuan dan misi team,

2. Anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya,

3. Anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team,

4. Anggota menolak peran dan tanggung jawabnya.

Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan, khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. Snyder and Anderson, menyebutkan bahwa team work di sekolah, dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus, yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula, seperti : team pengembang kurikulum, team bimbingan dan konseling dan sebagainya, yang intinya team –team tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah.

Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan untuk peningkatan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas, Lesson Study, atau supervisi.

Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran, yang dikenal dengan sebutan Collaborative Teamwork Learning, yaitu suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team.

Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di sekolah diantaranya :

1. Dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan, maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil,

2. Setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus,

3. Informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam,

4. Memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi, dan

5. Adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok.

2. Melaksanakan pengawasan mutu pendidikan,

3. Memperdalam dalam memberikan pengertian bahwa persaingan untuk lebih berkembang dalam bidang ilmu pengetahuan, bukan tentang persaingan kekuasaan.

4. Melakukan pengajaran dengan metode observasi lapangan agar dapat meningkatkan minat belajar setelah melihat realita yang terjadi bahwa semakin ssulit lapangan pekerjaan untuk diraih.

Soal nomor 3

3. Langkah – langkah apa yang dapat dilakukan guru sebagai anggota PGRI dalam mensukseskan program penuntasan pendidikan dasar 9 tahun?

Jawab :

1. Menjalankan program kerja PGRI sesuai dengan tanggung jawab yang diterima.

2. Mendorong anak-anak usia 13-15 agar masuk sekolah baik di SMP,MTs maupun pendidikan lainnya yang sederajat.

3. Meningkatkan angka partisipasi anak untuk masuk sekolah SMP/MTs terutama di daerah yang jumlah anak tidak bersekolah SMP/MTs masih tinggi.

4. Menurunkan angka putus sekolah SMP/MTs atau yang sederajat.

5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam mensukseskan penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

6. Meningkatkan peran serta organisasi kemasyarakatan dalam mensukseskan gerakan nasional penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

7. Meningkatkan peran, fungsi dan kapasitas pemerintah pusat, pemerintah propinsi, kabupaten/kota dan kecamatan dalam penuntasan wajib belajar di daerah masing-masing.

Soal nomor 4

4. Dalam meningkatkan mutu Profesi Guru dapat ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, Pelatihan dan mengikuti study lanjut.

Bagaimana pandangan saudara tentang hal tersebut?

Jawab :

Metode yang digunakan sudah bagus, namun kurang dalam hal penerapan. Melalui pendidikan dan pelatihan serta mengikuti seminar akan mampu meningkatkan kualitas kerja dan dapat menciptakan suasana baru untuk menyampaikan uraian pelajaran dengan cara yang lebih menarik sehingga murid atau siswa dapat menerima apa yang akan disampaikan. Cara baru yang lebih menarik membuat suasana belajar yang lebih efektif sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan pelatihan dan study lanjut adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan sebagai tenaga pengajar yang harus mampu mencetak siswa yang berkompeten dan berkualitas didik tinggi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Metode pembelajaran dengan pelatihan dan study lanjutan untuk para tenaga pendidik sangat baik dilakukan, namun tidak ada metode yang dapat menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Tenaga pengajar juga harus mampu menciptakan metode dalam menyampaikan suatu materi untuk peserta didik. Guru sebagai anggota PGRI diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal. Soal – soal dan jawaban ini akan membantu dalam menyelesaikan sebagian masalah tenaga pengajar.

Profesi kependidikan adalah amanah yang melibatkan seluruh peserta didik serta tenaga pengajar, karena saling berkaitan dan berhubungan erat. Mutu pendidikan dinegara ini telah seharusnya mencapai titik yang bagus, namun karena kurangnya penerapan aturan dalam proses pembelajaran yang membuat hasil belum sesuai harapan.

3.2 Saran

Sudah saatnya para tenaga pengajar mengevaluasi metode agar mutu pendidikan di negara ini akan sesuai dengan tujuan organisasi, karena akan berdampak luas terhadap perkembangan negara. Untuk menghasilkan peserta didik yang berkualitas maka layaknya seorang anggota PGRI harus mampu menciptakan metode yang dapat mendukung proses belajar mengajar sehingga akan tercipta proses pembelajaran yang selaras dengan tujuan dan program kerja PGRI.


DAFTAR PUSTAKA

http://humassambas.com/?p=384

http://www.lpmpdki.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=204:gerakan-nasional-penuntasan-wajar-9-tahun&catid=114:berita-pendidikan&Itemid=332


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar